Vol 5, No 3 (2018) > Articles >

Aktivitas Afrodisiaka Fraksi dari Ekstrak Etanol 70% Daun Katuk (Sauropus androgynus (L). Merr) Pada Tikus Putih Jantan

Numlil Khaira Rusdi , Ni Putu Ermi Hikmawanti , Maifitrianti Maifitrianti , Yuanita Sofiana Ulfah , Ayyoehan Tiara Annisa

 

Abstract:

Decreased of libido is illustrated with disinterest in sexual activity caused by erectile dysfunction, impotence, and infertility. It can be treated by aphrodisiac agents. Katuk or Sauropus androgynus (L). Merr has long been used as a medicinal plant. The aim of this research was to evaluate which fraction of katuk leaf ethanol extract that had the aphrodisiac activity with parameters of climbing, introduction and the weight of testicular and seminal vesicle of male rat. Sprague-Dawley male rats as animals model divided into five groups: the normal control group, the positive control group (X-gra®), the n-hexane, ethyl acetate and water fraction groups in which each fraction group given a dose of 11.85 mg/kg body weight. The number of climbing and introductions were calculated on 0, 1st, 3th, and 5th day. The data were tested statistically with one-way ANOVA test followed by Tukey test. The weight of testicular and seminal vesicle of male rat were observed on the 15th day. Previously, rats were anesthetized using ketamine and then performed surgery. The results showed that the n-hexane fraction (11.85 mg/kg body weight) increased libido with the average number of climbing was 16.5 times and the average number of introductions was 27.75 times. It was also able to increase the weight of testicular and seminal vesicle of male rat compare to positive control (X-gra® 51.37 mg/kg body weight). The compounds contained in n-hexane fraction are terpenoids and steroids.



Penurunan libido digambarkan dengan ketidaktertarikan dalam melakukan aktivitas seksual yang disebabkan karena disfungsi ereksi, impoten dan infertilitas. Penurunan libido dapat diatasi dengan obat-obatan yang dapat meningkatkan gairah seksual (afrodisiaka). Daun katuk (Sauropus androgynus (L). Merr) telah lama digunakan sebagai tanaman obat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui fraksi dari ekstrak etanol daun katuk yang berpengaruh dalam meningkatkan libido dengan parameter climbing, introduction, dan peningkatan bobot testis dan vesikula seminalis tikus putih jantan. Tikus jantan galur Sprague-Dawley sebagai model hewan coba dibagi menjadi 5 (lima) kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kelompok kontrol positif (X-gra®), kelompok fraksi n-heksana, fraksi etil asetat dan fraksi air dimana tiap kelompok fraksi diberi dosis 11,85 mg/kgBB. Perhitungan jumlah climbing dan introduction dilakukan pada hari ke-0, 1, 3 dan 5. Data yang didapat diuji secara statistik dengan uji one-way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Tukey. Parameter peningkatan bobot testis dan vesikula seminalis tikus putih jantan diamati pada hari ke-15. Sebelumnya, tikus dianestesi dengan ketamin, kemudian dilakukan pembedahan. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, diperoleh bahwa fraksi n-heksana dengan dosis 11,85 mg/KgBB dapat meningkatkan libido dengan rata-rata jumlah climbing 16,5 kali dan rata-rata jumlah introduction 27,75 kali. Fraksi tersebut juga mampu meningkatkan bobot testis dan bobot vesikula yang sebanding kontrol positif yaitu X-gra® dengan dosis 51,37 mg/kgBB pada tikus putih jantan galur Sprague-Dawley. Senyawa yang terkandung di dalam fraksi n-heksana adalah terpenoid dan steroid.



Keywords: aphrodisiac; Sauropus androgynus (L). Merr; fractionation

Published at: Vol 5, No 3 (2018) pages: 123-132

DOI: 10.7454/psr.v5i3.4100


Access Counter: 202 views

Full PDF Download

References:

Andini D. (2014). Potential of katuk leaf (Sauropus androgynus L Merr) as aphrodisiac. J Majority, 3(7): 17-22

Arifien A. (2013). Uji efek seduhan daun katuk (Sauropus androgynus) terhadap libido tikus jantan (Rattus novergicus) dalam penggunaannya sebagai afrodisiaka dengan alat libidometer. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 2(1): 1-18

Depkes RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Departemen Kesehatan Republilk Indonesia. Jakarta. Hlm : 3, 11-12, 14, 17

Dito A. (2012). Ejakulasi Dini. CDK-199, volume 39, No. 11

Gauthaman K, Ganesan AP. (2008). The hormonal effects of Tribulus terrestris and its role in the management of male erectile dysfunction – an evaluation using primates, rabbit and rat. Phytomedicine, 15: 44–54

Hafez ESE. (2000). Reproduction in Farm Animals. Lea and Febiger, USA

Hanani E. (2016). Analisis Fitokimia. Jakarta: EGC

Harmusyanto R. (2013). Studi mengenai efek daun katuk (Sauropus androgynus L Merr) terhadap libido kelinci jantan (Oryctolagus cuniculus) sebagai afrodisiaka. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya,Vol 2(1), 12

Hatzimouratidis K, Eardley I, Giuliano F, Moncada I, Salonia A. (2015). Guidelines on Male Sexual Dysfunction: Erectil dysfunction and Premature ejaculation. European Association of Urology

Laumann E O. et al. (2015). Erectile dysfunction and premature ejaculation. Guidelines on Male Sexual Dysfunction, 281(6), pp. 1–38

Maulita W dkk. (2016). Pengaruh ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L) Merr) terhadap viabilitas, motilitas dan konsentrasi spermatozoa mencit jantan Balb/c yang diberi paparan asap rokok. Proceeding book “Scientifict Annual Meeting”, Forum Kedokteran Islam Indonesia (FOKI). Hlm : 2-6

Nchegang B, Mezui C, Longo F. Nkwengoua Z E, Amang A P, & Tan VP. (2016). Effects of the aquoeus extract of eremomastax speciosa (Acantaceae) on sexual behavior in normal male rats. Biomed Research International. Volume 2016

Petrus AJA. (2013). Sauropus androgynus (L.) merrill – A potentially nutritive functional leafy-Vegetable. Asian Journal of Chemistry, 25 (17): 9425-9433

Ramlachan P & Campbell M. (2014). Male sexual dysfunction. South Africa Medical Journal, 104 (6): 447

Selvi S and Basker A. (2012). Phytocemical analysis and GC-MS profiling in the leave of Saurpus androgynus (L) Merr. International Journal Of Drug Development and Research, 4(1): 162-167

Serefoglu et al. (2013). An evidence based unified defenition of lifelong and acquired premature ejaculation: Report of The International Society for Sexual Medicine (ISSM) second ad hoc committee for the defenition of premature ejaculation. The International Society for Sexual Medicine (ISSM).

Silva CV, Borges FM, and Velozo ES. (2012). Phytochemistry of some Brazilian plants with aphrodisiac activity, Phytochemicals - A Global Perspective of Their Role in Nutrition and Health, Dr Venketeshwer Rao (Ed.), ISBN: 978-953-51-0296-0, InTech.

Singh R, Singh S, Jeyabalan G, and Ali A. (2012). An overview on traditional medicine plants as aphrodisiac agent. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry, 8192: 43-44

Solihati N. (2013). Antifertilitas ekstrak pegagan (Centella asiatica) dan reversibilitas fungsi reproduksi pada tikus (Rattus norvegicus) jantan. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Suprayogi A, Kusumorini N, Setiadi M A, dan Murti Y B. (2009). Produksi fraksi daun katuk terstandar sebagai bahan baku obat perbaikan gizi, fungsi reproduksi, dan laktasi. Bogor: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, IPB.

Wahdaningsih Sri, Dian S, Inarah F.(2012). Uji aktivitas afrosiaka ekstrak etanol 70% daun tapak liman pada mencit putih jantan galur BALB/C. Skripsi. Pontianak : Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura

WHO (World Health Organisation). (2008). http://www.who.int/mediacentre/factsheets/Fs134/en. Diakses Agustus 2017.

Yuanti R. (2010). Uji afrodisiaka fraksi kloroform ekstrak etanol 70% kuncup bunga cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr.& Perry) terhadap libido mencit jantan. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.

Yuwanti R. (2010). Uji afrodisiaka fraksi kloroform ekstrak etanol 70% kuncup bunga cengkeh (Syzigium aromaticum L Merr & Perry) terhadap libido tikus jantan. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Zamblé A, Martin-Nizard F, Sahpaz S, Reynaert M-L, Staels B, Bordet R, Duriez P, Gressier B, and Bailleul F. (2008). Effects of microdesmis keayana alkaloids on vascular parameters of erectile dysfunction. Phytotheraphy Research, 23: 892–895.